@2013 Teguh Jati Prasetyo. Diberdayakan oleh Blogger.

Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

JADILAH LUAR BIASA KARENA KITA DICIPTAKAN DENGAN LUAR BIASA

Pada hakikatnya kita adalah luar biasa. Sejak mulai dari sperma kita bersaing dengan jutaan sperma lainnya untuk menuju satu tujuan yaitu sel telur. Dan akhirnya dari sekian juta sperma tersebut jadilah the champion nya, yaitu KITA. Bersyukurlah kita yang telah diijinkan untuk bisa lahir ke dunia ini,melihat indahnya dunia yang penuh dengan kenikmatan-kenikmatan yang sudah Allah berikan kepada kita semua. Besyukur karena kita telah diberikan tubuh ini dengan segala kesempurnaannya. Mata yang masih bisa melihat, telinga yang masih bisa mendengar, kaki yang masih bisa berjalan, jantung yang masih bisa berdetak dan kenikmagan-kenikmatan lain yang sudah kita miliki. Namun, terkadang SUDAHKAH kita bersyukur dengan semua itu? Sudahkah kita Berterima kasih pada Allah SWT?? Sudahkah kita membalas Semua kenikmatan yang telah Allah berikan tersebut, dengan berusaha menjadi pribadi yang baik, yang senantiasa menjalakan perintahNya dan menjauhi laranganNya???

Terkadang kita dekat dengan sang Pencipta ketika kita sedang susah, ketika kita sedang tertimpa musibah. Kita merengek-rengek meminta kepada Allah untuk diberikan solusi dari permasalahan yang kita dapatkan itu. Kita dengan sungguh-sungguh memohon, entah kesungguhan itu benar- benar dari dalam hati atau hanya dalam ekspresi?? Jawaban itu hanya ada di dalam hati kita dan hanya kita yang tahu.. Akan tetapi ketika kita sedang senang, sedang mendapatkan kenikmatan, terkadang kita lupa bersyukur dengan apa yang sudah kita dapatkan, terkadang kita lupa berterima kasih dengan apa yang sudah kita dapat. Kita terlalu asik dengan kenikmatan yang kita dapatkan, kalaupun bersyukur terkadang hanya bersyukur begitu saja, berbeda dengan ketika tertimpa musibah yang sampai berkeluh kesah untuk meminta pertolongan Allah. Tetapi itu semua masih mending dari pada tidak bersyukur sama sekali. Sudah terlalu banyak saat ini kita jumpai orang yang mengaku beragama, namun terkesan tak beragama, tidak menjalankan syariat dengan baik. Mereka masih terbuai dan tergoda dengan kenikmatan dunia yang fana ini. Mereka begitu nyaman menikmati indahnya dunia tanpa mempersiapkan diri untuk kembali ke hadapan Sang Maha Kuasa. Seakan kita lupa akan siapa yang telah menciptakan kita, siapa yang sudah memberikan kenikmatan pada kita.

Saudara ku, kita memang orang yang sepatutnya bersyukur karena Allah telah memberikan kita dengan segala kesempurnaan yang kita miliki. Pernahkah kita mencoba untuk membayangkan dan memperhatikan kehidupan disekitar kita?? ternyata masih banyak diantara saudara-saudara kita yang masih harus berusaha keras untuk hanya sekedar mendapatkan sesuap nasi. Mengorek-ngorek tempat sampah untuk mendapatkan kepingan-kepingan rupiah. Melanglang panas nya jalanan untuk meminta belas kasihan orang kaya demi bisa menghidupi kehidupannya.. dan perlu diketahui juga saudaraku, di luar sana masih ada saudara kita yang dengan segala kekurangan yang dimilikinya, mereka masih bertahan, masih semangat dalam menjalani kehidupan.. mereka memang tuli,mereka memang buta, mereka memang tak bisa bicara. Akan tetapi, hati dan pikiran mereka tidak buta, tidak tuli dan tidak diam. Mereka terus mengukir karya dan menunjukkan pada dunia bahwa MEREKA BISA!!!

Pernahkah kita berfikir wahai saudaraku, mereka dengan segala kekurangan yang mereka miliki masih bisa menciptakan karya-karya terbaik mereka. Masih bisa menunjukkan kepada dunia kalau mereka ADA, Mereka tidak tenggelam dalam kejamnya dunia. KITA dengan segala kelebihan yang kita miliki seharusnya mampu berkarya lebih, berkarya lebih banyak, dan berkontribusi untuk membangun negera tercinta ini menjadi lebih baik.‘Tidak ada perubahan besar tanpa adanya perubahan – perubahan kecil’’ untuk itu mulailah perubahan itu dari diri kita sendiri, dari hal-hal kecil dan dari SEKARANG karena pada hakikatnya kita diciptakan sebagai makhluk yang LUAR BIASA untuk bisa menciptakan HAL-HAL YANG LUAR BIASA PULA!!!

SEMANGAT UNTUK MENJADI PRIBADI YANG LUAR BIASA!!!

TJP.

Tag : , ,

KEPINGAN SEMANGAT

Sebuah tulisan yang tidak sengaja ingin ku tuangkan dalam ketikan-ketikan jemari lentikku yang perlahan dan cepat menyentuh tombol tombol key pada thosiba nb 305 yang sudah beberapa bulan ini menemaniku. Aku tertarik dengan apa yang terjadi di sekelilingku. Banyak orangp-orang hebat yang perlahan tapi pasti mengukir prestasi emasnya. Bisa dikatakan mereka tidak cukup pandai dalam masalah akademik, tapi otaknya luar biasa. Ternyata mereka kuliah tidak hanya sekedar mengejar nilai saja melainkan ilmulah yang mereka cari. Itulah sebagian dari temen2 aku yang aku perhatikan selama ini. Mungkin mereka memang sebagai golongan minoritas, tapi aku salut dengan apa yang mereka lakukan dan kerjakan. Sebuah perjuangan yang nyata dan itulah sebuah awal dari keberhasilan yang nantinya akan mereka raih. Terkadang aku merasa iri dengan apa yang mereka lakukan. Bagaimana bisa mereka melakukan itu semua?? Apa rahasianya?? Selama ini aku ingin sekali mencoba untuk bisa menjadi seperti mereka, menjadi bagian dari pencilan seperti mereka tapi sebesar apa pun usahaku selalu saja kandas dimakan dengan kemalasan diriku yang semakin lama semakin menjadi. Aku tak tahu kenapa rasa malas ini selalu saja mengikuti setiap perjalanan ku. Bagaimana ya menghilangkan rasa malas ini??? Fiuuuuhhhhh…..


Tapi aku yakin bahwa setiap orang punya potensi masing-masing,, tiap orang itu unik begitu kata seorang temenku. Jadi jangan pernah menyesali apa yang ada pada dirimu, jadikan itu sebagai cambuk untuk meraih kepingan-kepingan mimpimu yang masih tercecer,, jalan kita masih panjang sobat,,saat inilah saat yang tepat buat kita untuk mulai berbenah,belum terlambat kawan…kesempatan itu selalu ada.. tergantung kita aja mau memandang kesempatan itu dari sebelah mana, apakah kita pandang itu sebagai sebuah kesempatan ataukah merupakan sebuah hambatan yang akan menghalangi jalan kita… pandailah mengambil sudut pandang yang berbeda dalam segala kehidupan yang kita jalani, terutama ubahlah sudut pandang negatif menjadi positif karena itulah yang nantinya akan bisa melejitkan potensi kita sobat.. mungkin memang tidak terlalu banyak tulisanku ini,, tapi semoga bisa bermanfaat untuk semuanya…

Dalam menjalani suatu kehidupan pastilah ada hambatan yang akan menghalangi jalan kita. Namun ubahlah sudut pandang dari hambatan itu menjadi sebuah peluang yang akan bisa melejitkan potensi kita. Semangat selalu menjalani kehidupan ini, karena sebaik baiknya orang adalah orang yang bisa berguna bagi orang lain. So,,tunjukkanlah aksi kita untuk bisa berkontribusi dan bisa bermanfaat bagi orang-orang disekeliling kita. J

SALAM SEMANGAT MENGINSPIRASI !!!!

Tag : , ,

Pemancing Cilik

Pada tepian sebuah sungai, tampak seorang anak kecil sedang bersenang-senang. Ia bermain air yang bening di sana. Sesekali tangannya dicelupkan ke dalam sungai yang sejuk. Si anak terlihat sangat menikmati permainannya.

Selain asyik bermain, si anak juga sering memerhatikan seorang paman tua yang hampir setiap hari datang ke sungai untuk memancing. Setiap kali bermain di sungai, setiap kali pula ia selalu melihat sang paman asyik mengulurkan pancingnya. Kadang, tangkapannya hanya sedikit. Tetapi, tidak jarang juga ikan yang didapat banyak jumlahnya.

Suatu sore, saat sang paman bersiap-siap hendak pulang dengan ikan hasil tangkapan yang hampir memenuhi keranjangnya, si anak mencoba mendekat. Ia menyapa sang paman sambil tersenyum senang. Melihat si anak mendekatinya, sang paman menyapa duluan. "Hai Nak, kamu mau ikan? Pilih saja sesukamu dan ambillah beberapa ekor. Bawa pulang dan minta ibumu untuk memasaknya sebagai lauk makan malam nanti," kata si paman ramah.

"Tidak, terima kasih Paman," jawab si anak.

"Lo, paman perhatikan, kamu hampir setiap hari bermain di sini sambil melihat paman memancing. Sekarang ada ikan yang paman tawarkan kepadamu, kenapa engkau tolak?"

"Saya senang memerhatikan Paman memancing, karena saya ingin bisa memancing seperti Paman. Apakah Paman mau mengajari saya bagaimana caranya memancing?" tanya si anak penuh harap.

"Wah wah wah. Ternyata kamu anak yang pintar. Dengan belajar memancing engkau bisa mendapatkan ikan sebanyak yang kamu mau di sungai ini. Baiklah. Karena kamu tidak mau ikannya, paman beri kamu alat pancing ini. Besok kita mulai pelajaran memancingnya, ya?"

Keesokan harinya, si bocah dengan bersemangat kembali ke tepi sungai untuk belajar memancing bersama sang paman. Mereka memasang umpan, melempar tali kail ke sungai, menunggu dengan sabar, dan hup... kail pun tenggelam ke sungai dengan umpan yang menarik ikan-ikan untuk memakannya. Sesaat, umpan terlihat bergoyang-goyang didekati kerumunan ikan. Saat itulah, ketika ada ikan yang memakan umpan, sang paman dan anak tadi segera bergegas menarik tongkat kail dengan ikan hasil tangkapan berada diujungnya.

Begitu seterusnya. Setiap kali berhasil menarik ikan, mereka kemudian melemparkan kembali kail yang telah diberi umpan. Memasangnya kembali, melemparkan ke sungai, menunggu dimakan ikan, melepaskan mata kail dari mulut ikan, hingga sore hari tiba.

Ketika menjelang pulang, si anak yang menikmati hari memancingnya bersama sang paman bertanya, "Paman, belajar memancing ikan hanya begini saja atau masih ada jurus yang lain?"

Mendengar pertanyaan tersebut, sang paman tersenyum bijak. "Benar anakku, kegiatan memancing ya hanya begini saja. Yang perlu kamu latih adalah kesabaran dan ketekunan menjalaninya. Kemudian fokus pada tujuan dan konsentrasilah pada apa yang sedang kamu kerjakan. Belajar memancing sama dengan belajar di kehidupan ini, setiap hari mengulang hal yang sama. Tetapi tentunya yang diulang harus hal-hal yang baik. Sabar, tekun, fokus pada tujuan dan konsentrasi pada apa yang sedang kamu kerjakan, maka apa yang menjadi tujuanmu bisa tercapai."

source: http://artikelmotivasi.blogspot.com/2008/04/pemancing-cilik.html

Tag : , ,

SETIAP KITA ADALAH MUTIARA

Mutiara. Awalnya ia bukan apa-apa. Hanya butiran pasir dan debu kotor yang tak ada harganya. Waktu yang kemudian membentuknya: detik demi detik, di kedalaman samudera, dalam kegelapan cangkang makhluk-Nya. Dengan proses yang demikian panjang dan pelan, penuh kesabaran. Pun kemudian, keindahannya juga tak dapat segera dinikmati begitu saja. Karena ia harus dijemput di kedalaman lautan, dikeluarkan dari rumahnya yang kokoh dan dibersihkan, disepuh dan diolah hingga menjadi perhiasan istimewa. Sungguh sebuah proses yang panjang dan melelahkan, bahkan bukan tidak mungkin terhenti di tengah jalan.

***

Mungkin engkau pernah merasa dirimu bukanlah apa-apa saat ini. Bahkan bisa jadi lebih dari itu, engkau membenci dirimu sendiri, sebagai manusia tak berguna, makhluk sia-sia. Begitu banyak kekurangan, begitu banyak kesalahan dan keburukan. Apalagi ketika kau melihat orang lain yang nampak begitu sempurna dan memiliki begitu banyak kelebihan, rasanya engkau makin ingin tenggelam. Mengapa orang lain memiliki begitu banyak kelebihan sedang aku tak memiliki apa-apa kecuali kekurangan? Mengapa aku buruk sedang orang lain cakep? Mengapa orang lain berhasil dan aku selalu gagal? Mengapa orang lain kaya dan aku miskin? Serta beribu 'mengapa' lainnya yang akan membuat kita kecewa dan terluka, serta terpaku pada kekurangan-kekurangan yang kita miliki.

Padahal, saya percaya, setiap kita tahu dan yakin, bahwa Allah tidak mungkin menciptakan makhlukNya hanya dengan kekurangan saja atau kelebihan saja. Hanya dengan madharat saja tanpa manfaat atau sebaliknya. Pun kita manusia, pastilah memiliki keduanya dalam porsi yang imbang. Dia yang maha kuasa membekali manusia dengan segala kelebihan, menjadikan setiap insan memiliki keistimewaan. Hanya saja proses hidup yang kita alami mungkin telah membuatnya hanya menjadi potensi terpendam, tak muncul ke permukaan, bahkan mungkin ia, sekalipun ia pernah muncul di masa kecil kita, kemudian terkubur oleh segala tekanan dan rintangan.

Padahal, ibarat mutiara, kita tak dapat menjadi berharga begitu saja. Kita butuh waktu untuk membentuknya. Kita butuh proses panjang untuk mendapatkan keindahannya. Dan proses ini, butuh ketelatenan dan kesabaran.

Ya, sesungguhnya setiap kita adalah mutiara yang memiliki pancaran keindahan kita masing-masing, seperti apapun adanya kita pada awalnya. Kita hanya harus menyepuhnya untuk membuatnya menjadi berharga. Dan proses menyepuh ini, banyak cara dan jalannya.

Rintangan, hambatan, pengalaman, pembelajaran, baik oleh diri sendiri maupun oleh orang lain, tidak akan menjadi masalah. Karena pada dasarnya kita adalah mutiara. Kita hanya harus berusaha semaksimal kita, membuka mata, buka telinga dan buka hati.

Hanya satu awal yang perlu kita lakukan: itikad dan keyakinan untuk menjadi mutiara. Sungguh saya ingin menjadi mutiara, melalui berbagi dan berbakti pada sesama. Engkau? Menjadi mutiara seperti apa yang engkau inginkan?

Tag : , ,

5 kualitas pensil


Melihat Neneknya sedang asyik menulis Adi bertanya, "Nenek sedang menulis apa?"

Mendengar pertanyaan cucunya, sang Nenek berhenti menulis lalu berkata, "Adi cucuku, sebenarnya nenek sedang menulis tentang Adi. Namun ada yang lebih penting dari isi tulisan Nenek ini, yaitu pensil yang sedang Nenek pakai. Nenek berharap Adi dapat menjadi seperti pensil ini ketika besar nanti."

"Apa maksud Nenek bahwa Adi harus dapat menjadi seperti sebuah pensil? Lagipula sepertinya pensil itu biasa saja, sama seperti pensil lainnya," jawab Adi dengan bingung.

Nenek tersenyum bijak dan menjawab, "Itu semua tergantung bagaimana Adi melihat pensil ini. Tahukah kau, Adi, bahwa sebenarnya pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup."

"Apakah Nenek bisa menjelaskan lebih detil lagi padaku?" pinta Adi

"Tentu saja Adi," jawab Nenek dengan penuh kasih

"Kualitas pertama, pensil dapat mengingatkanmu bahwa kau bisa melakukan hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kau jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkahmu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya".

"Kualitas kedua, dalam proses menulis, kita kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil yang kita pakai. Rautan itu pasti akan membuat pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, pensil itu akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga denganmu, dalam hidup ini kau harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik".

"Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar".

"Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu".

"Kualitas kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga Adi, kau harus sadar kalau apapun yang kau perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan".

"Nah, bagaimana Adi? Apakah kau mengerti apa yang Nenek sampaikan?"

"Mengerti Nek, Adi bangga punya Nenek hebat dan bijak sepertimu."

Begitu banyak hal dalam kehidupan kita yang ternyata mengandung filosofi kehidupan dan menyimpan nilai-nilai yang berguna bagi kita. Semoga memberikan manfaat.
Tag : , ,

Kisah Dua Tukang Sol

Mang Udin, begitulah dia dipanggil, seorang penjual jasa perbaikan sepatu yang sering disebut tukang sol. Pagi buta sudah melangkahkan kakinya meninggalkan anak dan istrinya yang berharap, nanti sore hari mang Udin membawa uang untuk membeli nasi dan sedikit lauk pauk. Mang Udin terus menyusuri jalan sambil berteriak menawarkan jasanya. Sampai tengah hari, baru satu orang yang menggunakan jasanya. Itu pun hanya perbaikan kecil.

Perut mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya. Mau beli makan, uangnya tidak cukup. Hanya berharap dapat order besar sehingga bisa membawa uang ke rumah. Perutnya sendiri tidak dia hiraukan.

Di tengah keputusasaan, dia berjumpa dengan seorang tukan sol lainnya. Wajahnya cukup berseri. “Pasti, si Abang ini sudah dapat uang banyak nich.” pikir mang Udin. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap.

“Bagaimana dengan hasil hari ini bang? Sepertinya laris nich?” kata mang Udin memulai percakapan.

“Alhamdulillah. Ada beberapa orang memperbaiki sepatu.” kata tukang sol yang kemudian diketahui namanya Bang Soleh.

“Saya baru satu bang, itu pun cuma benerin jahitan.” kata mang Udin memelas.

“Alhamdulillah, itu harus disyukuri.”

“Mau disyukuri gimana, nggak cukup buat beli beras juga.” kata mang Udin sedikit kesal.

“Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah.” kata bang Soleh sambil tetap tersenyum.

“Emang begitu bang?” tanya mang Udin, yang sebenarnya dia sudah tahu harus banyak bersyukur.

“Insya Allah. Mari kita ke Masjid dulu, sebentar lagi adzan dzuhur.” kata bang Soleh sambil mengangkat pikulannya.

Mang udin sedikit kikuk, karena dia tidak pernah “mampir” ke tempat shalat.

“Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah.”

Akhirnya, mang Udin mengikuti bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Bang Soleh begitu hapal tata letak masjid, sepertinya sering ke masjid tersebut.

Setelah shalat, bang Soleh mengajak mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Tentu saja mang Udin bingung, sebab dia tidak punya uang. Bang Soleh mengerti,

“Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir.”

Akhirnya mang Udin ikut makan di warung Tegal terdekat. Setelah makan, mang Udin berkata,

“Saya tidak enak nich. Nanti uang untuk dapur abang berkurang dipakai traktir saya.”

“Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barakah.” kata bang Soleh tetap tersenyum.

“Abang yakin?”

“Insya Allah.” jawab bang soleh meyakinkan.

“Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain.” kata mang Udin penuh harap.

“Insya Allah. Allah akan menolong kita.” Kata bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah.

Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa.

“Apa kabar mang Udin?”

“Alhamdulillah, baik. Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa koq penghasilan saya malah turun? Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat.” kata mang Udin setengah menyalahkan.

Bang Soleh hanya tersenyum. Kemudian berkata,

“Masih ada hal yang perlu mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah.”

“Oh ya, apa itu?” tanya mang Udin penasaran.

“Tawakal, ikhlas, dan sabar.” kata bang Soleh sambil kemudian mengajak ke Masjid dan mentraktir makan siang lagi.

Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tetapi di tempat yang berbeda. Mang Udin yang berhari-hari ini sepi order berkata setengah menyalahkan lagi,

“Wah, saya makin parah. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran abang tidak cocok untuk saya?”

“Bukan tidak, cocok. Mungkin keyakinan mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah. Coba renungkan, sejauh mana mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?” jelas bang Soleh sambil tetap tersenyum.

Mang Udin cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Dia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Dia “hanya” coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh bang Soleh.

“Bagaimana supaya yakin bang?” kata mang Udin sedikit pelan hampir terdengar.

Rupanya, bang Soleh sudah menebak, kemana arah pembicaraan.

“Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, disini?” tanya bang Soleh.

“Tidak.”

“Tapi kenyataanya kita bertemu, bahkan 3 hari berturut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?” lanjut bang Soleh. Mang Udin terlihat berpikir dalam. Bang Soleh melanjutkan, “Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin.”

Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya mulai paham. Kemudian mulai tersenyum.

“OK dech, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih abang.” kata mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca.

“Berterima kasihlah kepada Allah. Sebentar lagi dzuhur, kita ke Masjid yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah.”

Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat sambil diiringi rasa optimist bahwa hidup akan lebih baik.

Tag : ,

- Copyright © TEGUH JATI PRASETYO - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -