LAPORAN KULIAH KERJA PROFESI KALIMANTAN SELATAN
Tabel 1 Data
Sebaran Balita berdasarkan Status Gizi (BB/U) pada awal dan akhir masa KKP di Kalimantan
Selatan
|
Kriteria
|
Sebaran Balita Berdasarkan Status
Gizi (BB/U)
|
||
|
Awal
|
Akhir
|
Delta
|
|
|
Status Gizi Kurang
|
45
(12,2%)
|
24
(6,5%)
|
21
(46,7%)
|
|
Status Gizi Baik/Normal
|
316
(85,6%)
|
333
(90,2%)
|
15
(4,7%)
|
|
Status Gizi Lebih
|
8
(2,2%)
|
12
(3,3%)
|
6
(75%)
|
|
Jumlah
|
369
(100%)
|
369
(100%)
|
|
Berdasarkan
data diatas dapat diketahui jumlah dan persentase status gizi balita yang
berada di lokasi KKP. Perhitungan status gizi dilakukan berdasarkan parameter
BB/U. Status gizi balita dibagi menjadi tiga kriteria yaitu status gizi kurang,
status gizi normal dan status gizi lebih. Berdasarkan data di atas dapat
diketahui bahwa jumlah balita gizi kurang pada awal penimbangan sebanyak 45
anak atau 12.2% dari keseluruhan Balita. sedangkan di akhir penimbangan
terdapat 24 (6.5%) Balita yang masuk kriteria status gizi kurang. Hal ini
menunjukkan adanya penurunan Balita yang mengalami status gizi kurang.
Kemudian
balita dengan status gizi normal memiliki persentase sebesar 85.6% ketika
penimbangan awal dan berubah menjadi 90.2% ketika penimbangan akhir. Hal ini
menunjukkan adanya penambahan balita yang memiliki kriteria status gizi normal.
Adanya penurunan persentase status gizi kurang dan kenaikan persentase status
gizi lebih menunjukkan bahwa status gizi balita di lokasi KKP menjaadi semakin
baik. Namun demikian, terdapat juga peningkatan balita yang mengalami status
gizi lebih dari semula 2.2% menjadi 3.3%. namun peningkatan tersebut tidak
terlalu signifikan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa program-program KKP
yang dilakukan dapat membantu masyarakat dalam memperbaiki status gizi balita
masyarakat setempat.
Salah
satu program upaya perbaikan gizi di lokasi KKP provinsi kalimantan selatan
adalah dengan melakukan penyuluhan. Penyuluhan ini dilakukan kepada kader
posyandu maupun ke ibu-ibu warga setempat. Materi yang diberikan diantaranya
mengenai pentingnya asupan zat gizi yang baik untuk tumbuh kembang dan
kesehatan anak maupun anggota keluarga. Untuk kader posyandu sendiri, ada
materi tambahan yaitu mengenai proses pelaksanaan posyandu yang baik dan benar.
Diharapkan pasca penyuluhan terjadi peningkatan pengetahuan dan pemahaman dari
ibu balita tentang zat gizi serta pentingnya asupan makanan bergizi bagi
kesehatan anggota keluarga. Berikut ini merupakan tabel jumlah kader posyandu
yang mendapatkan edukasi gizi.
Tabel 2 Data Jumlah Kader
Posyandu yang Mendapat
Edukasi Gizi di Kalimantan Selatan
|
No
|
Nama Desa
|
Jumlah Kader Posyandu yang Mendapat
Edukasi Gizi
|
|
Kalimantan Selatan
|
||
|
1
|
Sarang
Tiung
|
9
|
|
2
|
Mekarsari
|
4
|
|
3
|
Sekandis
|
7
|
|
4
|
Bukit
baru
|
3
|
|
5
|
Teluk
Kepayang
|
10
|
|
Jumlah
|
|
33
|
|
Jumlah Total Kalimantan
Selatan
|
33
|
|
Berdasarkan
tabel tersebut dapat diketahui bahwa jumlah total kader yang mendapatkan
edukasi gizi sebanyak 33 orang. Kader posyandu yang paling banyak mendapatkan
penyuluhan adalah kader dari desa teluk kepayang dengan jumlah 10 orang.
Sedangkan kader posyandu yang paling sedikit mendapatkan penyuluhan adalah di
desa Mekarsari. Perbedaan jumlah kader yang mendapatkan edukasi gizi ini
dikarenakan kondisi dan situasi setiap daerah berbeda-beda. Berikut ini juga
disajikan data hasil penyuluhan berupa tingkat pengetahuan gizi kader sebelum
dan sesudah mendapatkan edukasi. Pengukuran tingkat pengetahuan ini dilakukan
berdasarkan hasil pre-test dan post-test yang diberikan ketika penyuluhan.
Tabel 3 Tingkat Pengetahuan Gizi Kader
Posyandu Sebelum dan Setelah Mendapat Edukasi Gizi di Kalimantan
Selatan
|
No
|
Nama Desa
|
Tingkat Pengetahuan Gizi
(Nilai rata-rata Test)
|
|||
|
Awal
|
Akhir
|
Delta
|
% Perubahan
|
||
|
Kalimantan Selatan
|
|||||
|
1
|
Sarang Tiung
|
63,33
|
86,66
|
23,33
|
36,84
|
|
2
|
Mekarsari
|
47.5
|
60
|
12.5
|
26.3
|
|
3
|
Sekandis
|
71.43
|
88.57
|
17.14
|
24
|
|
4
|
Bukit Baru
|
26.66
|
60
|
33.33
|
125
|
|
5
|
Teluk Kepayang
|
57
|
82
|
25
|
43.86
|
|
Rata-rata Kalimantan Selatan
|
41.78
|
75.45
|
22.26
|
51.2
|
|
Berdasarkan
tabel diatas dapat diketahui persentase peningkatan pengetahuan kader di setiap
desa yang mendapatkan edukasi gizi. Persentase perubahan tingkat pengetahuan
gizi terendah ada di desa Sekandis sebesar 24% sedangkan persentase tertinggi
ada di Desa Bukit Baru sebesar 125%. Berdasarkan data rata-rata, persentase
perubahan tingkat pengetahuan gizi sudah cukup baik yaitu sebesar 51.2%.
Selain
memberikan penyuluhan ke kader posyandu, penyuluhan juga diberikan kepada
ibu-ibu daerah setempat. Berikut ini merupakan data ibu-ibu yang mendapatkan
penyuluhan.
|
No
|
Nama Desa
|
Jumlah
Ibu yang Mendapat Edukasi Gizi
|
|
Kalimantan Selatan
|
||
|
1
|
Sarang
Tiung
|
15
|
|
2
|
Mekarsari
|
20
|
|
3
|
Sekandis
|
30
|
|
4
|
Bukit
Baru
|
13
|
|
5
|
Teluk
Kepayang
|
19
|
|
Jumlah Total
Kalimantan Selatan
|
97
|
|
Berdasarkan
tabel diatas dapat kita ketahui jumlah ibu-ibu yang mendapatkan penyulluhan
edukasi gizi. Peserta terbanyak berasal dari desa Sekandis sebesar 30 orang.
Jumlah ibu – ibu yang mendapatkan penyuluhan gizi paling sedikit berada di Desa
Bukit Baru sebanyak 13 orang. Jumlah ibu-ibu keseluruhan yang mendapatkan
edukasi gizi di lokasi KKP Kalimantan Selatan sebanyak 97 orang. Selain data
jumlah ibu-ibu yang mendapatkan edukasi gizi, berikut ini juga disajikan data
mengenai perubahan tingkat pengetahuan gizi ibu-ibu sebelum dan setelah
penyuluhan dilaksanakan.
Tabel 5 Tingkat Pengetahuan Gizi Ibu Sebelum dan Setelah Mendapat Edukasi Gizi di Kalimantan
Selatan
|
No
|
Nama Desa
|
Tingkat Pengetahuan Gizi
(Nilai rata-rata Test)
|
|||
|
Awal
|
Akhir
|
Delta
|
% Perubahan
|
||
|
Kalimantan Selatan
|
|||||
|
1
|
Sarang Tiung
|
52,66
|
75,33
|
22,66
|
43,04
|
|
2
|
Mekarsari
|
47
|
57
|
10
|
21.27
|
|
3
|
Sekandis
|
28
|
56.66
|
28.66
|
102.38
|
|
4
|
Bukit Baru
|
59.23
|
69.23
|
10
|
16.88
|
|
5
|
Teluk Kepayang
|
52.11
|
71.05
|
18.95
|
36.36
|
|
Rata-rata Kalimantan Selatan
|
42,6
|
66,2
|
14,2
|
43,0
|
|
Tabel
diatas menunjukkan data persentase perubahan pengetahuan gizi ibu-ibu di Lokasi
KKP Provinsi Kalimantan Selatan sebelum dan sesudah mendapatkan penyuluhan.
Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa persentase perubahan
pengetahuan gizi tertinggi berada di desa sekndis sebesar 102.38%. sedangkan
Desa Bukit Baru menunjukkan persentase perubahan pengetahuan gizi ibu-ibu yang
paling kecil dibandingkan desa yang lain yaitu sebesar 16.88%. persentase
perubahan pengetahuan gizi ibu rata-rata dari semua desa lokasi KKP adalah
sebesar 43%.
Tag :
ILMIAH,
#PANGGALAN
Tulisan ini ditulis terinspirasi dari sebuah permainan yang baru saja aku liat kemarin. Permainan yang "dulu" aku pun suka memainkannya. permainan yang simpel, sederhana, tapi sarat makna dan butuh keahlian tersendiri dari yang memainkannya. Ya, sebuah permainan yang dikenal dengan nama panggalan di daerahku (red : gasing kayu).
Permainan ini sudah aku kenal sejak aku kecil, masih teringat sekali dalam diriku bahwa aku memainkan permainan ini sejak aku SD, kelas 1 mungkin. ya sebuah permainan yang dibuat dari kayu dan bisa dimainkan (red :diputar) dengan menggunakan tali yang dipilin. Uniknya permainan ini adalah bersifat musiman. Jadi tidak setiap saat permainan ini dimainkan, melainkan mengikuti tren permainan yang ada dan dilakukan anak-anak pada masa itu. Para pemainnya bangga ketika panggalan yag ia mainkan bisa berputar lebih lama dibandingkan dengan panggalan kawan-kawannya. Oya, permainan ini akan lebih seru jika dimainkan oleh lebih dari sama dengan 2 orang karena disana unsur persaingannya akan sangat terasa.
Siapa yang paling lama berputar maka ia akan menjadi raja dan punya kesempatan untuk "menggenthes" panggalan yang lain yang berputar tidak lebih lama dari paanggalannya. Sebuah kebanggaan jka bisa menjadi raja dari permainan ini. Tapi biasanya posisi raja ini tidak akan kekal diduduki oleh satu orang saya, melainkan akan diduduki secara bergiliran. Yang kasihan adalah yang jadi "kotis" (red : yang dapet kesempatan paling pertama memutar panggalan dan akan "digenthes" oleh lainnya). Yang jadi "kotis" bener-bener merasakan seperti rakyat yang "tertindas". Seperti itulah gambaran sebuah permainan yang "dulu" semasa aku kecil sering dimainkan oleh anak-anak. Dari permainan yang sederhana itu dapat diambil beberapa pelajaran berharga.
1. persahabatan, permainan yang dimainkan secara bersama sama ini akan dapat menjalin hubungan persahabatan dan silaturahim dengan kawan-kawannya. karena pada hakikatnya ada komunikasi yang terjalin selama melakukan permainan ini.
2. keikhlasan, para pemain harus belajar ikhlas jika ia menjadi "kotis" ataupun harus rela jika panggalan miliknya harus terluka karena "tergenthes" oleh panggalan lawan.
3. fokus dan konsentrasi, para pemain harus fokus untuk memainkan panggalannya, apalagi jika harus "menggenthes" panggalan lawan biar bisa tepat sasaran.
4. kesabaran, sabar menanti giliran main dan sabar juga menghadapi perputaran panggalan yang kadang lama kadang sebentar.
5. cerdik, setiap pemain harus pandai mengatur strategi agar dia bisa menempati posisi raja, atau minimal tidak menjadi "kotis".
Kurang lebih seperti itulah pelajaran yang dapat diambil dari sebuah permainan tradisional yang "pernah ada" dan semoga akan "selalu ada". Cukup prihatin sebenarnya ketika dunia anak-anak sekarang sudah mulai "terkotori" dengan teknologi yang sebenarnya g tepat sasaran. Mereka cenderung "teracuni" oleh teknologi yang membuat kebanyakan anak-anak jaman sekarang mengutamakan ego dan rasa individualnya. Tetapi itulah yang terjadi saat ini, semoga "racun-racun teknologi" itu dimanfaatkan sebagaimana mestinya dan tidak "meracuni" kegemilangan dan kegembiraan anak-anak jaman sekarang. Semoga permainan tradisional pun akan tetap eksis dan tidak tergusur oleh permainan modern yang "teracuni teknologi". Tulisan ini mungkin bisa jadi sebuah pelajaran bahwasanya permainan tradisional yang sarat makna dan pelajaran sudah mulai tergusur. Lantas, apa yang bisa kita lakukan? jawabannya ada dalam hati kalian yang paling dalam.
Subah, 28 Januari 2013
Tag :
Curhat,
Maaf dan Syukur
Inspirasi itu datangnya kapan saja,tetapi jika inspirasi tersebut tidak segera dituangkan maka akan sia-sia. karena manusia mempunyai keterbatasan dalam mengingat sesuatu. Itulah mengapa saat ini saya mulai menggerakkan jemari saya untuk menari nari di atas keyboard menuliskan apa yang ada di pikiran saya kali ini. ya meskipun saya tidak mengetahui apakah tulisan ini sungguh bermakna ataupun tidak, yang pasti inilah ungkapan yang ingin saya tuliskan sekarang.
Maaf, satu kata yang mudah sekali untuk diucapkan namun pada aplikasinya hati ini terkadang masih terlalu berat untuk melakukannya. Baik meminta maaf atau memberi maaf. Manusia diciptakan oleh Allah SWT dilengkapi dengan seperangkat hati dan akal agar menusia berfikir. Mana sekiranya tindakan yang itu memang benar dan mana yang sekiranya salah. terkadang apa yang ada dalam hati ini tidak sesuai dengan apa yang dilakukan. mungkin itulah salah satu sebab mengapa kita tidak bisa maksimal atau bahasa kerennya totalitas dalam menjalankan suatu pekerjaan. lantas, apa hubungannya dengan kata maaf?
Maaf mengandung banyak makna, makna untuk pribadi, untuk orang lain dan untuk Allah SWT, Tuhan Semesta Alam. Secara pribadi maaf digunakan untuk introspeksi diri atas segala kesalahan yang telah dilakukan diri kita sendiri. Untuk orang lain maaf diungkapkan ketika kita punya salah ataupun orang lain yang punya salah. Maaf digunakaan untuk Tuhan karena sebagai seorang manusia yang hanya kecil ini, sudah tentu kita memiliki banyak salah. Salah tidak mensyukuri nikmat Allah. terkadang kita mengeluh dengan makanan yang kita makan, padahal diluar sana masih banyak orang yang belum tentu bisa makan denganmakanan yang seenak kita makan. kadang kkita juga sering mengeluh dengan kondisi keuangan kita, padahal diluar sana masih ada juga saudara kita yang bahkan mungkin tidak mengantongi uang sama sekali, bahkan untuk makan hari esok pun ia tidak tahu harus bagaimana. kadang kita sering mengeluh mengapa kehidupan kita tidak seperti "mereka" yang diberikan kelimpahan harta, padahal disisi yang lain jika kita menengik ke bawah, masih banyak saudara kita yang tinggal di emperan toko, bawah jembatan dan bahkan untuk menikmati pendidikan saja mereka sangat sulit. dan masih banyak lagi keluhan keluhan lain.
Memang ketika kita tidak bersyukur dengan apa yang kita dapatkan, kita akan senantiasa menjadi pribadi yang RAKUS, tidak pernah puas dengan nikmat yang telah Allah berikan. namun ketika kita bisa mengucapkan kata syukur disetiap langkah kita, maka ternyata kehidupan ini begitu Indah. Maka Nikmat dari TUHANmu yang manakah yang Engkau dustakan??? manusia bisa berencana, namun rencana Allah itu lebih indah, bahkan jauh lebih indah dari apa yang kita perkirakan.
MAAFkan hambamu ini ya Allah yang terkadang masih mendustakan nikmat yang Engkau berikan. MAAFkan hamba ya allah yang terkadang tidak bersyukur dengan apa yang sudah Engkau berikan. MAAFkan hamba ya Allah atas segala kelalaian yang sering hamba perbuat.
Semoga hamda dan saudara-saudara yang lain senantiasa BERSYUKUR dengan apa yang sudah Engkau berikan. Nikmat MU sungguh tiada terkira. ALHAMDULILLAH...
mohon maaf dan mohon koreksi jika masih banyak kekurangan.. menulis disela sela waktu belajar Metode Penelitian Gizi menjelang UTS.
Bogor, 12 April 2012
Pondok Handayani, Balio
Tag :
Curhat,
Belajar
Kembali menulis setelah sekian lama berhibernasi dari dunia tulis menulis. jemari ini terasa gatal karena telah lama tidak menggerakkannya untuk menyusun rangkaian kata nan harmonis di atas rapinya tuts keyboard. menyusun kata demi kata menjadi sebuah kalimat dan kalimat per kalimat hingga menjadi paragraf dan paragraf pun menjadi sebuah rangkaian tulisan yang mungkin saat ini tidak memiliki arti bagi yang membacanya. apalagi tulisan yang saat ini sedang anda dan kalian semua baca. abstrak maknanya.
Tapi kawan, dari sini kita bisa belajar bahwa menulis itu tidak harus diawali dengan tulisan yang bagus yang bisa membuat mata pembaca terbelalak dan berdecak kagum membaca tulisan kita. bukan pula ketika orang lain berdiri dan tepuk tangan atas tulisan yang kita buat. namun yang perlu digaris bawahi adalah bahwa kemauan untuk menulisa itu tidak dimmiliki oleh semua orang. hanya ada beberapa orang (subjektivitas saya) yang dengan ikhlas sengaja membuat tulisan dan menuangkan pemikirannya dalam tulisan..
Memang terkadang sangat susah untuk memulai bergerak, ACTION dari niat untuk menulis. bahkan yang saya rasakan adalah sudah beratus ratus kali mungkin saya meniatkan untuk menulis, namun pada realitasnya hanya beberapa kali saja niat tersebut yang dapat saya tuangkan dalam ACTION langsung.. " seribu bahkan satu juta teori dapat dikalahkan hanya dengan satu TINDAKAN". terkadang mengangguk juga membaca pepatah tersebut, memang pada dasarnya kemampuan untuk menulis sebenarnya dipunyai oleh semua orang. dari kecil sampai dewasa kita dibekali dengan ilmu menulis dan membaca. Namun kemauan untuk menulis itu yang belum tentu dipunyai oleh setiap orang.
KARYA TERBAIK UNTUK FEMA
Apa yang terbersit di benak mahasiswa baru (dalam hal ini TPB) ketika mendengar kata-kata Masa Perkenalan Fakultas? Sebagian besar dari mereka akan berpikir bahwa masa perkenalan identik dengan perpeloncoan dan penugasan. Pandangan demikian sebagian besar dimiliki oleh mahasiswa yang akan menjalani kegiatan tersebut, dan menjadi isu turun temurun yang menjadi momok bagi para mahasiswa yang akan masuk ke fakultas masing-masing. Lebih tepatnya mereka beranggapan bahwa masa perkenalan fakultas adalah ajang balas dendam dari kakak tingkat ke adik-adiknya.
Sebenarnya ada beberapa mahasiswa yang juga memiliki pola pikir lain. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa MPF merupakan wadah dan sarana silaturahmi serta sumber untuk mengetahui lebih lanjut mengenai fakultas masing-masing. Tetapi, akan diduga lebih banyak mahasiswa yang berpendapat lain ketika berhadapan dengan kegiatan MPF. Paradigma itulah yang seharusnya dihilangkan. Inilah tugas besar yang akan diemban oleh panitia kegiatan Masa Perkenalan Fakultas Ekologi Manusia (MPF FEMA) tahun 2011.
Mahasiswa identik dengan sikap idealis dengan ide kreatif selalu berkembang, sehingga ide-ide tersebut dapat digunakan untuk mengubah paradigma buruk yang selama ini terjadi. Sabagai seorang mahasiswa, kita membuat agar kegiatan MPF itu bukanlah menjadi suatu kegiatan yang menambah beban para peserta, tetapi justru menumbuhkan rasa senang dan bangga menjadi mahasiswa FEMA. Bagaimana mungkin mereka bisa senang dan bangga dengan fakultasnya jika sejak masa perkenalan sudah disuguhi kegiatan dengan momok yang menakutkan.
Kegiatan MPF diadakan tidak hanya sebagai ajang penyambutan mahasiswa baru, tetapi juga sebagai sarana menumbuhkan ide kreatif dan sikap peduli mahasiswa. Jadi, selain perkenalan antara kakak kelas dengan adik angkatannya, harapannya MPF juga berfungsi sebagai wadah silaturahmi antara teman-teman seangkatan. Hal ini perlu ditekankan pada saat MPF, sehingga nuansa kekeluargaan di FEMA lebih bisa dirasakan oleh para peserta.
Merancang sebuah kegiatan sama halnya dengan berperang di medan juang. Dalam pencapaian sasaran kegiatan perlu dibuat strategi yang jelas, sehingga akan berpengaruh pada keberhasilan acara. MPF tidak hanya sebatas kegiatan yang berjalan rutin setiap tahun, namun mengubah konsep agar kegiatan MPF ini akan menjadi kenangan yang berarti dan bermanfaat bagi para pesertanya . Kita tidak berharap bahwa nantinya kegiatan ini menjadi kegiatan yang akan meninggalkan kesan tidak baik. Dengan demikian para panitia seyogyanya dapat memposisikan diri sebagai peserta, sehingga mengerti kebutuhan para mahasiswa baru.
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam membuat suatu kegiatan adalah pengelolaan SDM di dalamnya. Dalam lingkup sebuah wilayah atau fakultas, akan ada manusia- manusia yang di dalamnya dikaruniai dengan akal pikiran. Dengan akal pikirannya manusia dapat berpikir dan dapat memanfaatkannya sebagai sarana untuk produktifitas diri. Akal pikiran merupakan dasar manusia untuk melakukan tindakan, dan sebagai benteng dalam memahami antara hal yang baik dan buruk. Disinilah peran para panitia MPF sangat penting dalam membentuk karakter dan kepribadian, baik kepada sesama panitia maupun para peserta.
Secara khusus hubungan interaksi yang baik dapat terjalin apabila kita saling memahami karakter satu sama lain. Namun proses pemahaman ini tidak dapat berlangsung singkat, perlu waktu yang dibutuhkan dalam pencapaiannya. Sikap inilah yang harapanya dapat tumbuh di antara panitia MPF, karena yang menjadi target dari panitia tidak hanya keberhasilan acara, tetapi juga keberkahan yang melewati proses-proses kerja itu. Hal ini pun tidak lepas dari komitmen yang dimiliki para panitia.
Seperti yang kita ketahui, hubungan interaksi yang baik biasa dikumandangkan dalam ilmu ekologi. Menurut Riberu (2002), ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungan hidupnya. Inti dari permasalahan ekologi adalah hubungan makhluk hidup, khususnya manusia dengan lingkungan hidupnya. Dalam konsep ekologi, manusia erat hubungannya dengan lingkungan yang ada disekitarnya. Lingkungan ini tidak terbatas akan alam yang ada saja tetapi juga lingkungan masyarakat yang ada disekitarnya. Oleh karena itu, sebagai mahasiswa FEMA kita perlu menanamkan nili-nilai ekologi di setiap kegiatan apapun, termasuk di dalamnya kegiatan MPF.
Apabila dikaitkan dengan kegiatan MPF FEMA 2011, maka luaran yang diharapkan adalah terwujudnya mahasiswa FEMA dengan individu-individu yang berwawasan konsep ekologi mampu peduli dengan lingkungan yang ada disekitarnya. Konsep yang ingin dibangun adalah bagaimana nantinya mahasiswa ini memiliki dasar moral dan etika yang baik, social awareness yang tinggi dan intelektual sehingga mampu menjadi mahasiswa yang kompetitif, prestatif peduli dan memiliki daya saing tinggi.
Moral dan etika dalam konteks ini merupakan sebuah dasar yang menjadi indikator bagi individu dalam bertindak, sehingga perilaku mereka merupakan cermin diri. Keinginan kita sebagai mahasiswa FEMA yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap ekologi minimal mampu membangun interaksi yang baik, baik kepada lingkungan maupun masyarakat. Dalam hal ini nilai-nilai dapat ditanam dengan memulai hal-hal terkecil terlebih dahulu.
Beberapa contoh hal yang dapat dilakukan dalam membangin nuansa ekologi terhadap lingkungan adalah membuang sampah dengan benar dan menggunakan air secukupnya. Kemudian untuk lingkungan sosial bisa diterapkan budaya 5S, yaitu senyum, salam, sapa, sopan, santun. Slogan 5S inilah yang harapannya bisa ditanamkan dalam diri mahasiswa baru sehingga kapan pun mereka bertemu baik dengan dosen, kakak tingkat, maupun dengan teman satu angkatan mereka bisa menerapkan 5S tersebut.
Social awareness yang tinggi juga sangat diperlukan terutama bagi mahasiswa FEMA yang memang nantinya dipersiapkan untuk bisa terjun ke masyarakat langsung. Kepedulian sosial ini tidak terbatas pada kepedulian antara mahasiswa dengan masyarakat saja tetapi juga antar sesama mahasiswa, dosen, maupun lingkungan yang ada disekitarnya. Untuk memunculkan sikap intelektual perlu dilakukan suatu pembelajaran dan kebiasaan. Dengan adanya sikap intelektual ini harapannya mahasiswa mampu berpikir cerdas, kritis, kreatif, inovatif, dalam menanggapi apa yang terjadi disekitarnya serta mampu mengelola sumber daya yang ada disekitarnya dengan baik.
Ketiga pilar utama yang akan diangkat dan ditanamkan pada mahasiswa FEMA angkatan 47 adalah moral dan etika, social awareness, dan intelektual. Sesungguhnya ketiga hal ini saling berkaitan satu sama lain dan saling melengkapi. Apabila ketika ketiga hal ini sudah tertanam pada mahasiwa baru, harapannya adalah mereka mampu menjadi mahasiswa yang memiliki nilai-nilai positif dalam dirinya. Mereka tidak hanya sekedar dapat julukan mahasiswa, tetapi mampu menjadi individu yang prestatif, kompetitif, peduli dan memiliki daya saing yang tinggi sehingga dalam jangka panjang harapannya bisa menjadikan FEMA lebih baik lagi budaya “terasa manis” di fema akan lebih terasa dan slogan FEMA MEMBUMI DAN MENDUNIA dapat terwujud.
TJP.
Tag :
Curhat,
